June 12, 2017

Santri Darul Iman Ikuti Latihan Manasik Haji




Senin (12/06) pagi, para santri mengikut praktik manasik haji. Bertindak selaku pembimbing adalah Usth Dra Hj Maesaroh M.Pd dan Ust H.A. Solahudin.

Miniatur Ka'bah berada di tengah lapangan futsal. Para santri mengenakan pakaian serba putih. Mereka berjalan seraya mengumandangkan kalimat talbiyah, labbaik allahumma labbaik...

Acara ini termasuk dalam rangkaian Pekan Ramadhan 1438 H di Darul Iman.

Hari ini mereka melakukan thawaf-thawafan. Semoga kelak mereka melakukan thawaf beneran.

Allahumarzuqnaa ziyarata baitikal haram. Amin.

Labels: ,

June 09, 2017

Beranggapan Sial dan Bahaya Musyrik



Dikutip dari Catatan khotbah Jum’at

بسم الله الرحمن الرحيم

Hidup di zaman modern, zaman dengan teknologi yang begitu canggih, zaman dimana segala sesuatu terlihat begitu mudah dan begitu praktis. Namun di zaman modern ini masih ada sifat-sifat jahiliyah yang hidup di hati masyarakat modern. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan:
1. Membangga-banggakan kebesaran leluhur.
2. Mencela keturunan.
3. Mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu
4. Meratapi mayit (niyahah). Lalu beliau bersabda, “Orang yang meratapi mayit, apabila ia wafat sebelum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim no. 934).

Hadis ini menunjukkan masih ada sifat-sifat jahiliyah yang sulit dihilangkan masyarakat modern pada saat ini, walaupun tidak boleh kita katakan, ini adalah zaman jahiliyyah modern. Zaman jahiliyyah telah berlalu dengan datangnya cahaya Islam, hanya saja sifat-sifat jahiliyah yang masih ada.

Di antara sifat-sifat jahiliyah yang masih sering kita temui di masyarakat kita adalah tathayyur atau dalam bahasa kita disebut dengan anggapan sial. Tathayyur berasal dari kata tha-ir yang artinya burung. Mengapa demikian? Dahulu, orang Arab jahiliyah apabila hendak melakukan perjalanan, baik perjalanan dagang atau perjalanan bersafar secara umum, mereka melihat pergerakan burung. Apabila ada burung (mungkin burung tertentu) terbang ke arah kanan, maka itu sebagai pertanda baik atau tidak akan tertimpa bahaya, mereka pun melanjutkan perjalanan. Namun apabila ada burung terbang ke arah kiri, mereka tidak jadi bersafar, karena itu akan terjadi tanda buruk atau kesialan.

Beranggapan sial atau tathayyur termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Firaun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakan itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut   berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِوَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُون“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).

Di lingkungan masyarakat Indonesia, anggapan sial itu pun merebak di masyarakat. Mulai dari bunyi tokek, kalau tokek bunyinya ganjil, maka akan terjadi demikian-demikian, kalau bunyinya genap, maka akan terjadi demikian. Seseorang yang kejatuhan cicak, maka dia akan merasa cemas, musibah apa yang akan dia dapatkan pada hari ini, ia pun lantas mengurungkan niat untuk berpergian, membatalkan janji dan sebagainya. Ada juga yang mendengar burung gagak, berkeyakinan akan mendapatkan kesialan atau bahkan kematian. Yang lain berkeyakinan bahwa angka tiga belas adalah angka sial, sampai-sampai maskapai penerbangan tidak ada yang memuat tempat duduk bernomor 13 untuk maskapai mereka, karena takut sial dan celaka. Ini semua adalah perbuatan syirik yang harus kita jauhi. Ini adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah, yang mengaitkan sesuatu bukan dengan sebabnya.

Masalah yang lebih besar adalah pemilihan tanggal dan bulan pernikahan, seseorang bisa menunda pernikahan bahkan pernikahan bisa gagal karena berdebat menentukan tanggal pernikahan. Ada yang mengatakan, kalau menikah di bulan Syawal maka rumah tangga tidak langgeng, banyak terjadi cekcok dan sebagainya. Orang-orang pun menghindari bulan Syawal dengan keyakinan demikian.
Di masyarakat kita juga ada keyakinan apabila menabrak kucing, walaupun tidak sengaja, akan mendapatkan musibah, tanda-tanda keburukan yang layak untuk dikhawatirkan. Ini semua adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah, yang menganggap sial dengan kejadian-kejadian tertentu.
Masih ada juga masyarakat kita yang mempercayai bahwa bulan safar itu adalah bulan sial atau bulan tabu. Ini semua warisan dari kepercayaan Jahiliyah. Perhatikan Hadis shahih riwayatMuslim Rasulullah saw bersabda:
لا عدوى ولاطيرة ولا هامة ولا صف  Tiada penularan tiada tabu / sial tiada burung hantu dan tiada sial dan tabu pada bulan Shafar.

Hal-hal di atas adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita menafikan bahwa Allah lah yang memberikan manfaat dan mampu memberi bahaya atau mudharat kepada seorang hamba. Manfaat tidak akan diperoleh dan bahaya tidak akan didapatkan kecuali atas takdir dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dengan perantara-perantara hewan atau tanggal-tanggal tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sahabat Ibnu Abbas yang ketika itu masih kecil:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ“Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh makhluk (di langit dan di bumi), mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat untukmu, niscaya mereka tidak dapat memberikan manfaat untukmu kecuali apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mendatangkan bahaya untukmu, niscaya mereka tidak dapat mendatangkan suatu pun bahaya untukmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena (penulis takdir) telah diangkat dan catatan (takdir) telah mengering.” (HR. Tirmizi, no. 2516, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Tirmizi).

Perbuatan menganggap sial ini, meskipun dianggap ringan oleh sebagian orang, namun perbuatan ini besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana tidak, perbuatan ini adalah perbuatan syirik, artinya seorang hamba menzalimi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Mas’ud, ia bertanya pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ « أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” “Engkau membuat sekutu bagi Allah padahal Dia telah menciptakanmu”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 4477 dan Muslim no. 86).

maka hendaknya kita tidak meremehkan hal ini. Kita jauhi hal ini dan kita beritahukan kepada saudara-saudara kita yang masih mengamalkannya dan memiliki keyakinan-keyakinan demikian.
Setelah kita mengetahui bahwasanya anggapan sial yang beredar di masyarakat kita dengan berbagai macamnya adalah perbuatan dosa, dan hal itu bukanlah dosa yang ringan, tapi perbuatan dosa yang palign besar, lalu bagaimana cara kita menanamkan keyakinan kepada diri kita bahwa tidak ada sial dalam Islam, menanamkan pada jiwa kita bahwa Allah-lah satu-satunya yang mampu memberi manfaat dan menolak bahaya, caranya adalah dengan bertawakkal kepada Allah. Anggapan sial mengurangi tauhid seorang muslim dan dinilai syirik. Penilaian syirik ini dilihat dari beberapa sisi:

1. Bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki,
2. Memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan
3. Mengurangi tauhid.

Untuk menghilangkan persangkaan sial di sini hanyalah dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”.
Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala.  Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:




اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu.”

Labels: ,