-->
Hot!

Other News

More news for your entertainment

TAHUN AJARAN BARU DI MASA PANDEMI


Sabtu 18 Juli 2020 lalu kami memulai tahun ajaran 2020-2021, ditandai dengan upacara pengibaran bendera merah putih yang diikuti oleh seluruh santri dan asatidz.
Kegiatan belajar dan mengajar digelar dengan menerapkan protokol kesehatan. Di antara yang kami terapkan adalah pemakaian masker dan penyediaan keran air bersih di beberapa sudut pondok untuk cuci tangan. Himbauan untuk selalu menjaga kesehatan, kami lakukan melalui sejumlah media, misalnya pengajian-pengajian, poster-poster, serta spanduk yang terpasang di beberapa sudut pondok.
Kami juga melarang kunjungan tamu dan wali santri ke dalam area pondok, minimal hingga 30 Juli 2020. Mohon para wali santri di mana pun berada dapat memakluminya.
Salam dari Darul Iman

PORSEKA XXII TAHUN 2020



Dalam rangka menggali bakat dan potensi para santri, terutama santri baru, setiap tahun kami menggelar Pekan Olahraga Seni dan Pramuka, disingkat Porseka. Tahun ini, Porseka digelar pada tanggal 12 - 16 Juli 2020.
Pada Porseka ke-22 ini, ada 30 cabang perlombaan, baik berupa keolahragaan, kesenian dan kepramukaan. Di bidang olahraga, ada badminton, basket, volley dan futsal. Di bidang kesenian, ada lomba kaligrafi, melukis, menyanyi, MTQ, dan juga drama.
Tujuan lain dari Porseka ini adalah menghibur para santri baru agar bergembira bersama teman-teman barunya di pondok. Melalui kegiatan-kegiatan bersama yang dikemas dalam perlombaan, diharapkan keakraban di antara mereka semakin terbentuk. Salam dari Darul Iman.

PENGENALAN LINGKUNGAN PONDOK 2020


Dalam rangka mengenalkan kehidupan pondok kepada para santri baru, Rabu-Jumat, 08-10 Juli 2020, kami menggelar kegiatan Pengenalan Lingkungan Pondok (PLP). Pada masa lalu, kegiatan ini bernama "Masa Orientasi Santri Baru", biasa disingkat MOSBA.
Pada acara ini, para santri menerima materi seputar wawasan kepesantrenan. Di antara nara sumber yang hadir adalah Ust Dr H Dede Ahmad Permana (Pimpinan Pondok), Usth Dra Hj Maesaroh Umyvelia, M.Pd (Guru Senior), serta Ust Ali Rusmanto, S.Pd.I (Kepala MTs).
Sedangkan materi "Motivasi Sukses" disampaikan oleh 2 alumni yang meraih beasiswa prestasi di kampus negeri di Jakarta dan Jogjakarta.
Sebagai selingan, ada pengenalan lagu-lagu kepesantrenan, seperti Mars dan Himne Darul Iman, Oh Pondokku, dan lagu Yalal Wathan.
Pada tahun pandemi ini, kami menerima 52 santri baru, berasal dari berbagai daerah di Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Sumatera. Semoga mereka semua memperoleh kemudahan dalam belajar, sehingga meraih cita-cita, serta menjadi generasi yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Amin.

Hak Allah dan Hak Hamba Pada Masa Pandemi



حقوق العباد مقدمة على حقوق الرب عند تزاحم الحقوق
(الشيخ محمد نووي البنتاني، تفسير مراح لبيد)

Jika Anda sedang salat, tiba-tiba seekor ular berbisa datang menghampiri tempat salat, bolehkah Anda menghentikan salat? Jawabannya tentu saja boleh, demi menyelamatkan diri dari marabahaya.
Atau ketika Anda salat di Masjid dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal mengambil tas Anda yang tergeletak di ujung sajadah. Anda boleh menghentikan salat demi menyelamatkan benda milik Anda.
Salat adalah ibadah yang termasuk kategori hak Allah (huququlloh), sedangkan memperoleh keamanan diri dan keutuhan harta adalah hak manusia (huququl ibad). Ketika kita dihadapkan pada kondisi-kondisi yang mengancam seperti di atas, kita boleh mendahulukan huququl ibad atas huququlloh.
Pembahasan tentang kedua hak ini dapat kita temukan dalam karya-karya besar para fuqaha terdahulu. Syekh Nawawi al Bantani (w 1897 M) dalam tafsir Marah Labid-nya mengatakan, Huququl ibad muqaddamah 'ala huquqillah 'inda tazahum al huquq. Hak-hak manusia dapat didahulukan atas hak-hak Allah, pada saat terjadi tarik menarik kepentingan antara keduanya.
Jauh sebelum Syekh Nawawi, Imam Syatibi (w 790 H), ulama terkemuka dari kalangan Malikiyah membahas tema ini secara panjang lebar dalam magnum opus-nya, al Muwafaqat. Syatibi menegaskan bahwa hak-hak Allah itu lebih agung daripada hak-hak hamba, akan tetapi ia dapat ditolerir ketika seseorang sedang dihadapkan pada hak dirinya. Toleransi ini, kata Syatibi, adalah wujud keringanan (rukhsah) dan keluwesan (tausi'ah) dalam agama.
Dari kalangan fuqaha Syafiiyah, ada Syekh Izzudin ibn Abdissalam (w 660 H), yang memaparkan lebih detail persoalan ini dalam karyanya, Qawaid al Ahkam fi Mashalih al Anam. Izzudin mengatakan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, hak-hak manusia dapat didahulukan atas hak-hak Allah, "sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk kebaikan duniawi manusia". Umpamanya kebolehan seseorang mengaku kafir (al talaffudz bi kalimat al kufr inda al ikroh) ketika ia dihadapkan pada ancaman yang membahayakan jiwa. Hal itu, kata Izzudin, "demi menyelamatkan jiwa raga, supaya seseorang tetap bisa menjalankan perbuatan ketaatan dan ibadat-ibadat lain pada kesempatan berikutnya".
Banyak contoh lain yang disebutkan Izzudin, di antaranya al a'dzar al mujawwizah li tark al jumu'at wa al jama'at wa al jihad, yakni kebolehan meninggalkan shalat Jumat, shalat jemaah dan juga jihad, karena ada alasan-alasan yang dibenarkan. Benang merah dari semua contoh itu, bahwa mengimani Allah adalah hak Allah, sehingga wajib dipenuhi oleh seorang hamba. Tetapi menjaga keselamatan diri adalah hak manusia yang harus diusahakan sebisa mungkin, yang dalam kondisi tertentu dapat saja mengalahkan hak Allah.
Pemahaman tentang hak-hak Allah dan hak-hak manusia, serta bagaimana memosisikannya ketika keduanya sedang berhadapan, semakin menemukan relevansinya ketika kita saat ini sedang menghadapi ujian hidup bernama wabah Covid-19. Kita yakin bahwa agama hadir untuk memberikan solusi bagi persoalan-persoalan kemanusiaan. Maka di sinilah kita harus jernih membaca fakta kehidupan di satu sisi, serta ruh syariat di sisi lain, agar mampu "menemukan" solusi-solusi yang diberikan agama itu.
Hukum kebolehan shalat Jumat yang diganti dengan dzuhur di rumah masing-masing - sebagaimana fatwa MUI yang kemudian dijadikan kebijakan resmi pemerintah di kawasan zona merah - adalah contoh konkrit dari teori huququl ibad vs huququllah di era pandemi ini. Selain fatwa tentang peniadaan sementara beberapa ritual keagamaan, demi menghindari potensi bahaya wabah.
Karena itu, konsep tentang hak-hak Allah vs hak-hak manusia ini, menambah deretan argumentasi teologis yang menguatkan pentingnya kewaspadaan kita dalam menghadapi wabah yang bahayanya sudah jelas ini. Selain kaidah "menghindari bahaya harus didahulukan atas mewujudkann kemaslahatan", atau teori mendahulukan hifdz al nafs atas hifdz al din yang sering kita dengar sebelumnya.
Semua ini seharusnya semakin meyakinkan kita, bahwa kebijakan yang diambil oleh para pemimpin dan para ulama di negara-negara Muslim termasuk Indonesia dalam menghadapi wabah ini, benar-benar memiliki argumen teologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Benar bahwa sebagai sebuah produk ijtihad, kemungkinan keliru pada kebijakan-kebijakan di atas memang selalu ada. Maklum, kita semua bukan Nabi. Sebagaimana kata Imam Malik (w 179 H) ketika ia sedang berziarah ke makam Nabi, "Setiap ucapan kita, memiliki potensi diterima atau ditolak, kecuali ucapan sosok yang ada di makam ini". Akan tetapi relativitas kebenaran hasil ijtihad ini bukanlah alasan kita untuk tidak patuh terhadap protokol resmi yang telah ditetapkan, atau bersikap ngeyel, memolitisir, apalagi menuduh yang bukan-bukan kepada para ulama dan para pemimpin kita, sebagaimana kadang kita temukan dalam beberapa postingan liar di media sosial.
Kini saatnya kita saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain, bukan saling melemahkan atau menyalahkan. Kebersamaan dan optimisme yang dibalut kesabaran, adalah modal awal kita untuk bisa lepas dari derita ini. Bukankah kita semua ingin wabah ini segera berlalu?

Dr.H.Dede Ahmad Permana, MA

Darul Iman Gelar Haflah ke-24 Secara Online



Pada hari Sabtu 14 Syawal 1441 H / 06 Juni 2020 M lalu, kami menggelar acara wisuda /Haflatut Takharruj Angkatan ke-24. Berbeda dengan haflah-haflah sebelumnya yang biasa digelar meriah, haflah kali ini hanya dihadiri oleh pengurus pondok. Sementara para wisudawan, menyaksikan secara online dari kediaman masing-masing.
Rangkaian acara juga hanya terdiri dari pembacaan yudisium dan khutbatul wada. Yudisium dibaca oleh Usth Hj Nurbaitillah Aminudin, MA (Kepala Biro Pengajaran), sedangkan khtbatul wada' disampaikan oleh Pimpinan Pondok, ust Dr H Dede Ahmad Permana, MA
Pada tahun ini, kami meluluskan 40 orang alumni, terdiri dari 14 putera dan 26 puteri. Mereka berasal dari berbagai daerah di tanah air, seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Lampung.
Selamat untuk para lulusan, semoga mereka menjadi generasi yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Ramadhan, Covid-19 dan Keselamatan Jiwa



Berpuasa Ramadhan adalah kewajiban individu bagi setiap Muslim, kecuali  orang yang sedang sakit atau menempuh perjalanan jauh (musafir). Keduanya mendapat dispensasi (rukhsah) boleh berbuka, dengan ketentuan mengganti puasa yang ditinggalkannya itu pada hari lain. 
Orang yang sedang sakit tidak perlu memaksakan diri berpuasa, jika diyakini penyakitnya akan semakin berat dan kondisi tubuhnya akan semakin melemah. Begitu pula seorang musafir, boleh berbuka dengan kriteria tertentu sebagaimana dijelaskan dalam fikih.
Dispensasi ini menyiratkan pesan bahwa dalam Islam, keselamatan jiwa adalah hal yang diprioritaskan, bahkan dapat mengalahkan kepentingan agama sekalipun.  Dalam istilah fiqh, usaha menjaga jiwa (hifdzun nafs) dapat didahulukan atas usaha menjaga agama (hifdzud din).
***
Konsep tentang pentingnya menjaga jiwa ini telah dirumuskan oleh para ulama besar terdahulu. Hujjatul Islam Abu Hamid al Ghazali (w 505 H) misalnya, dalam karyanya al Mustashfa min Ilm al Ushul membolehkan seorang Muslim mengaku kafir  jika ia berada dalam kondisi terancam dibunuh (kaun al ikroh mubihan li kalimat ar riddah li anna al hadzr min safak ad dam asyadd).  Kebolehan ini dilakukan dalam rangka menyelamatkan nyawa. Ulama besar lainnya, Imam Nawawi (w 676 H) mengatakan, “Orang yang dipaksa mengaku kafir, kemudian ia mengucapkannya dengan maksud menjaga keselamatan dirinya padahal dalam hatinya ia mengingkari ucapannya, maka ia tidak dapat dihukumi murtad”. Demikian perkataannya dalam kitabnya yang terkenal, al Majmu Syarh al Muhadzab.
Benang merah dari ucapan kedua ulama ini adalah bahwa dalam rangka menjaga keselamatan jiwa, seseorang boleh menggunakan strategi mengaku kafir, asalkan hatinya tetap mengakui keimanan (wa qalbuhu muthmainnun bil iman). 
Masih dalam konteks yang sama, ulama asal Banten yang mendunia, Syekh Nawawi al Bantani (w 1897 M) dalam Tafsir Marah Labid-nya mengatakan, “Perbuatan keta’atan yang diyakini akan menimbulkan terjadinya bahaya yang nyata, maka ia wajib ditinggalkan”. Rencana beribadah haji, demikian Syekh Nawawi mencontohkan dalam salah satu karya fiqh-nya, wajib ditunda jika jalur yang akan dilewati diyakini penuh resiko atau bahaya.
***
Pandangan-pandangan para ulama tentang urgensi menjaga jiwa dan agama sebagaimana paparan di atas, kini menemukan korelasinya dengan kondisi kita yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan di tengah wabah Covid-19. Kita ingin menjalankan ibadah Ramadhan yang penuh berkah ini di Masjid sebagaimana biasa, sebagai upaya menjaga dan menghidupkan syiar agama (hifdz ad din). Tetapi pada saat yang sama kita juga perlu mewaspadai potensi penularan wabah yang dapat saja terjadi melalui keramaian jemaah di Masjid. Kewaspadaan dan kehati-hatian dalam hal ini adalah bentuk penjagaan kita terhadap jiwa (hifdzun nafs), yang juga merupakan ajaran inti agama.
Sejumlah kebijakan diambil oleh pemerintah di negara-negara Muslim, didasarkan pada prinsip hifdzun nafs ini. Misalnya peniadaan shalat Jumat dan diganti dengan shalat dzuhur di rumah, sebagaimana diterapkan di banyak negara. Atau kebijakan pemerintah Saudi Arabia yang menghentikan sementara ibadah umroh, membatasi pelaksanaan tarawih di Masjid al Haram dan Masjid Nabawi. Di negeri kita, ada edaran Menteri Agama agar tarawih dan tadarusan dilakukan di rumah masing-masing, juga himbauan peniadaan acara buka puasa bersama, peringatan Nuzulul Quran, i’tikaf   dan shalat Idul Fitri yang melibatkan banyak orang.
Kebijakan-kebijakan ini harus kita fahami secara bijak juga. Ia adalah bentuk usaha lahiriah manusia dalam menghindari wabah Covid-19 yang bahayanya sudah jelas dan terbukti memakan banyak korban. Tidak tepat kiranya jika kebijakan-kebijakan inidikait-kaitkan dengan isu-isu lain yang tidak relevan, sebagaimana kadang kita temukan di media sosial.  Sebaliknya, kebijakan-kebijakan ini justru merupakan solusi konkrit yang mengkompromikan urgensi hifdzun nafs di satu sisi, tanpa mengorbankan kepentingan agama di sisi lain. Ia adalah jalan tengah. Bukankah jalan tengah seperti ini adalah ajaran Islam juga?        

Pandeglang, 23 April 2020 M
Dr. H Dede Ahmad Permana, MA

Pembekalan Perguruan Tinggi

Santri Kelas Akhir Dibekali Wawasan Perguruan Tinggi


Salah satu program rutin yang kami lakukan untuk para santri kelas akhir adalah pembekalan seputar dunia perguruan tinggi. Tujuannya agar mereka memiliki gambaran awal tentang apa dan bagaimana dunia perguruan tinggi, yang meliputi pengenalan beberapa kampus terdekat, pengenalan fakultas dan program studi yang ada di kampus tersebut, hingga sistem perkuliahannya secara singkat.

Khusus untuk para santri kelas akhir tahun ini, kegiatan dilakukan dalam 3 pertemuan setiap hari Jumat sore selama bulan Maret 2020. Tema-tema yang disampaikan adalah "Kemana Setelah Lulus?", "Fakultas dan Jurusan di UIN Jakarta",  "Fakultas dan Jurusan di UPI Bandung", "Kiat Sukses Belajar di Perguruan Tinggi", dan panduan pendaftaran perguruan tinggi tahun 2020.

Materi-materi tersebut disampaikan langsung oleh pimpinan pondok, Ust Dr H Dede Ahmad Permana, MA, yang juga dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Para santri tak hanya diberikan pembekalan, tetapi juga akan dibantu dalam proses pendaftaran ke kampus-kampus negeri yang mereka inginkan. Dengan sistem pendaftaran yang sudah serba online, maka proses-proses itu dapat dilakukan langsung di pondok melalui dukungan jaringan internet yang ada. Sehinga para santri tidak perlu repot-repot mengurus registrasi sendiri.

Pada tiga tahun terakhir (2017-209), kami berhasil memandu pendaftaran para santri kelas akhir, hingga mereka lulus di kampus-kampus idaman mereka. Di antara mereka, ada yang lulus kampus-kampus negeri di Surabaya, Malang, dan Jogjakarta, tentu selain di Serang, Jakarta dan Bandung yang memang sudah biasa ditembus oleh para alumni Darul Iman. Alhamdulillah. 


Musabaqah Lughawiyah wa Fanniyah 2020


Tiga MC Berbahasa Arab dan Inggris, pada pembukaan Musabaqah Lughawiyah wa Fanniyah 2020

Sebagai sebuah pondok yang memiliki misi pembelajaran bahasa asing, Darul Iman memiliki sejumlah program dalam rangka peningkatan kemampuan kebahasaan para santri. Salah satunya adalah agenda tahunan bernama Musabaqah Lughawiyah wa Fanniyah.

Musabaqah Lughawiyah wa Fanniyah tahun 2020 berlangsung sejak 23 Januari hingga 29 Januari 2020 lalu. Diikuti oleh seluruh santri yang dikelompokkan dalam beberapa grup.

Pada arena musabaqah yang berlangsung selama 6 hari ini, para santri menunjukkan kemampuan berbahasa mereka melalui sejumlah perlombaan. Di antaranya lomba pidato, lomba menyanyi (pop singer), puisi, drama / teater, juga sejumlah games menarik. Tentu saja semua menggunakan dua bahasa : Arab dan Inggris.

"Bahasa adalah kunci dunia. Kami di Darul Iman mendorong para santri untuk mampu berbahasa asing", tutur ust Dr H Dede Ahmad Permana, pimpinan pondok.

Pelatihan Aku Cinta Quran


Banyak metode dikenalkan para ahli dalam menghafal Alquran. Salah satunya adalah menghafal Alquran melalui metode isyarat gerakan tangan.
Metode ini diperkenalkan oleh ustzh Sa'diyah Lanre, dari Sulawesi. Ia menamai metode ini dengan ACQ, Aku Cinta Quran. Target utama metode ini adalah anak usia 3-12 tahun dan 12-18 tahun. Dengan isyarat tangan, seseorang dengan mudah memahami dan menghafal huruf hijaiyah, tajwid beserta makhrajnya.
Metode ACQ telah terdaftar di Kemenhumkam sejak 2009 dengan penemu atas nama Sa'diyah Lanre. Sejak 2006, Sa'diyah keliling Indonesia untuk mengisi pelatihan-pelatihan ACQ.
Hari Minggu-Selasa (18-20 Agustus 2019 lalu), usth Sa'diyah membagikan ilmunya ke para santri Darul Iman.
Pada hari pertama pelatihan, ia menjelaskan apa dan bagaimana sejarah metode ini. Para santri nampak antusias menyimak pemaparannya, terlebih saat usth Sa'diyah mulai mempraktekkan gerakan atau isyarat saat menyebutkan huruf-huruf hijaiyah.
Setelah pengenalan dasar, usth Sa'diyah mengajarkan do'a do'a. Di antara doa yg dilafalkan berikut dengan gerakannya : doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sangun tidur, doa masuk dan keluar WC, doa masuk dan keluar masjid, doa masuk dan keluar rumah, do'a mhn kebaikan dunia akhirat dan sebagainya. Sebanyak 14 doa dihafalkan oleh peserta dengan memahami maknanya melalui isyarat anggota tubuh.
Hari kedua, peserta melafalkan surat alfatihah, alikhlas, doa khatam quran, dan 10 doa. Karena peserta sudah mengetahui gerakan dasar utk memahami kata per kata, mereka bisa dengan sendirinya melafalkan surat pendek lain atau doa - doa yg belum diajarkan, tanpa diberi contoh oleh pemateri.
Guna memudahkan praktik secara mandiri, peserta mendapatkan 1 buku panduan dan CD.